Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 26 Oktober 2014

10 Virus Paling Mematikan di Dunia

Manusia sudah berjuang melawan virus sejak zaman prasejarah. Beruntung bagi kita yang hidup di zaman modern ini, karena berbagai antivirus dan vaksin sudah ditemukan sehingga virus tidak sampai mewabah.

Namun, ada beberapa virus yang belum bisa ditaklukkan manusia. Salah satunya adalah virus ebola yang merebak di Afrika Barat. Virus ini mematikan karena membunuh 90 persen penderitanya.

"Kondisi ini bisa memburuk," kata pakar virus dari Boston University, Elke Muhlberger.

Namun, ada virus-virus lain yang sama mematikan seperti ebola, bahkan lebih letal. Berikut 10 virus mematikan di dunia:




1. Marburg 


Ilmuwan mengidentifikasi virus Marburg pada 1967. Kala itu, ada wabah kecil yang terjadi di antara pegawai laboratorium di Jerman. Mereka terkena virus dari monyet-monyet terinfeksi yang impor dari Uganda.

Mereka yang terkena virus akan demam tinggi disertai pendarahan yang bisa berujung pada syok, kegagalan organ tubuh, hingga kematian.

Tingkat kematian saat wabah pertama tergolong kecil, hanya 25 persen. Namun, tingkat kematian akibat virus ini melejit saat mewabah tahun 1998-2000 di Republik Demokratik Kongo. Menurut data Badan Kesehatan Dunia/WHO, angka kematian akibat virus ini juga tinggi saat mewabah di Angola.

2. Ebola


Wabah pertama virus ini diketahui terjadi di Sudan dan Kongo tahun 1976. Ebola menyebar melalui kontak darah dan cairan tubuh lainnya dengan manusia atau hewan yang terinfeksi.

Menurut Muhlberger, tak semua strain ebola mematikan. Salah satu satu strain, ebola reston, bahkan tak membuat manusia sakit.
Lain halnya dengan strain Bundibugyo. Tingkat kematian penderita virus strain ini mencapai 50 persen. Menurut WHO, ebola yang lebih mematikan adalah Sudan strain dengan tingkat kematian hingga 71 persen.

Tahun ini, wabah ebola kembali muncul di negara-negara Afrika Barat. Menurut WHO, epidemik ini merupakan salah satu yang terbesar dan terkompleks.

3.  Rabies
Vaksin rabies untuk hewan memang sudah diperkenalkan sejak 1920 dan ini membantu mengontrol perkembangan virus. Namun, di negara-negara dunia ketiga, penyakit ini masih saja mengkhawatirkan. Seperti di India dan sebagian Afrika.

"Virus ini menghancurkan otak. Ini benar-benar penyakit yang buruk," kata Muhlberger.

Saat ini, kata dia, dunia memang sudah memiliki vaksin untuk melawan virus tersebut. Seseorang yang terkena virus rabies bisa dirawat hingga sembuh. Namun, kata dia, "Kalau Anda tidak mendapat perawatan, 100 persen kemungkinannya Anda akan mati."

4. HIV


Di zaman modern, virus paling mematikan adalah HIV. "Virus ini masih menjadi pembunuh terbesar," kata Dr Amesh Adalja, dokter penyakit menular sekaligus juru bicara Infectious Disease Society of America.

Diperkirakan, 36 juta orang tewas akibat HIV, sejak penyakit ini diidentifikasi tahun 1980-an. Adalja mengungkapkan, penyakit infeksi yang paling banyak menelan korban jiwa adalah HIV.

Obat antivirus yang kuat memungkinkan manusia dengan HIV saat ini untuk hidup lebih lama. Namun, penyakit ini terus menyerang dan menghancurkan orang-orang di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Sedikitnya, demikian data WHO, 1 dari 20 orang dewasa di Sub-Sahara Afrika terjangkit HIV.
5. Cacar
Pada 1980, World Health Assembly mendeklarasikan bahwa dunia bebas cacar. Namun, sebelum itu, manusia berjuang melawan virus ini selama ribuan tahun. Dan, penyakit ini sempat membunuh 1 dari 3 penderita. Yang selamat pun harus menanggung malu seumur hidup akibat bekas luka yang permanen. Bahkan, beberapa penderita yang sembuh harus kehilangan penglihatan.

Tingkat kematian cacar jauh lebih tinggi di luar kawasan Eropa. Hal ini diakibatkan, populasi di luar Eropa memiliki kontak yang minim dengan virus itu. Hingga kemudian, datang pengunjung bervirus masuk ke wilayah tersebut.

Misalnya, sejarawan memperkirakan, 90 persen penduduk asli Amerika tewas karena cacar yang "diperkenalkan" penjelajah dari Eropa. Di abad 20, cacar berhasil membunuh 300 juta orang.
"Penyakit ini membawa beban pada manusia. Tidak hanya kematian, tapi juga kebutaan. Dan itulah yang mendorong dunia untuk menghapus penyakit ini," kata Adalja.

6. SARS
Sindrom Pernapasan Akut Berat (bahasa InggrisSevere Acute Respiratory Syndrome, SARS) adalah sebuah jenis penyakit pneumonia. SARS pertama kali muncul pada November 2002 di Provinsi GuangdongTiongkok. SARS sekarang dipercayai disebabkan oleh virus SARS. Sekitar 10% dari penderita SARS meninggal dunia.
Setelah Tiongkok membungkam berita wabah SARS baik internal maupun internasional, SARS menyebar sangat cepat, mencapai negeri tetangga Hong Kong dan Vietnam pada akhir Februari 2003, kemudian ke negara lain dengan perantaraan wisatawan internasional. Kasus terakhir dari epidemi ini terjadi pada Juni 2003. Dalam wabah itu, 8.069 kasus muncul yang menewaskan 775 orang.
Untuk melihat garis waktu wabah SARS, lihat Progres wabah SARS.

7. Hantavirus

Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) pertama kali mendapat perhatian luas di Amerika Serikat pada 1993. Kala itu, seorang pemuda Najavo yang sehat dan tinggal bersama tunangannya di area Four Corners, AS meninggal. Dia mengembuskan napas terakhir setelah beberapa hari sesak napas. 

Beberapa bulan kemudian, otoritas kesehatan setempat mengisolasi hantavirus dari seekor tikus rusa (Peromyscus maniculatus) dari sebuah rumah yang penghuninya terinfeksi virus itu. 

Lebih dari 600 orang di AS terjangkit HPS, dan 36 persennya tewas karena penyakit itu, menurut Centers for Disease Control and Prevention. Manusia sebagai inang dapat terinfeksi virus ini apabila melakukan kontak dengan hewan pengerat dan kotorannya.

Virus ini dinamai sesuai dengan nama Sungai Hanta di Korea Selatan. Sebelumnya, hantavirus jenis lainnya mewabah di awal 1950-an, selama Perang Korea. Menurut paper di jurnal Clinical Microbiology Reviews pada 2010, lebih dari 3.000 prajurit terinfeksi virus ini dan 12 persennya tewas. 

Di dunia medis barat, virus ini tergolong baru saat ditemukan di AS. Peneliti kemudian menyadari bahwa tradisi pengobatan Navajo sudah mendeskripsikan penyakit yang mirip dengan yang di Korea dan terkait dengan tikus. 

8. Influenza
Selama musim flu, sekitar 500.000 orang di dunia tewas karena penyakit ini, demikian data WHO. Namun, kadang-kadang ketika sebuah strain flu baru muncul, pandemik muncul dengan penyebaran penyakit lebih cepat dan, seringkali, dengan tingkat kematian yang lebih tinggi pula. 

Pandemik flu paling mematikan, kadang disebut flu Spanyol, muncul pada 1918 dan menyerang sekitar 40 persen warga dunia dan membunuh 50 juta orang. 

"Saya pikir mungkin saja terjadi lagi, flu seperti pada 1918," kata Muhlberger. Jika strain flu baru muncul di tengah populasi manusia, dan dengan transmisi yang mudah antarmanusia, "Kita dalam masalah besar."

9. Dengue virus

Virus ini pertama kali muncul pada 1950-an di Filipina dan Thailand. Sejak saat itu, virus menyebar ke seluruh wilayah tropis dan subtropis. Sekitar 40 persen penduduk dunia tinggal di daerah dengan endemik dengue. Dan, virus ini makin menyebar di dunia yang makin menghangat- -dengan bantuan nyamuk.

Dengue menyerang 50 hingga 100 juta orang per tahun, menurut WHO. Tingkat kematian dengue relatif lebih rendah dibanding virus lain, sekitar 2,5 persen. Meski demikian, virus ini bisa menyebabkan penderita mengalami demam seperti terserang ebola. Ini disebut jugadengue hemorrhagic fever atau demam berdarah. 

"Kita harus lebih memikirkan virus dengue karena ini benar-benar ancaman bagi kita," kata Muhlberger. Sejauh ini, belum ada vaksin yang ampuh melawan virus ini. Namun, penelitian dan eksperimen pembuatan vaksin yang tengah dikerjakan sebuah perusahaan Prancis memberi harapan. 

10. Rotavirus


Sejauh ini, sudah ada dua vaksin yang tersedia untuk melindungi anak-anak dari rotavirus. Virus ini menyebabkan anak dan bayi menderita diare parah. Virus ini menyebar sangat cepat melalui yang dinamai peneliti fecal-oral route. Artinya, partikel kecil feses yang kemudian terkonsumsi penderita. 

Kasus rotavirus pada anak-anak di negara-negara maju jarang yang berujung pada kematian. Namun, penyakit ini menjadi pembunuh di anak di negara-negara berkembang di mana perawatan rehidrasi tidak luas tersedia.

Menurut data WHO tahun 2008, 453.000 anak berusia kurang dari 5 tahun di seluruh di dunia meninggal karena infeksi virus ini. Namun, negara yang kemudian menyediakan vaksin melaporkan bahwa angka anak-anak yang masuk rumah sakit dan meninggal akibat virus ini, menurun drastis.

Sumber : 
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/551466-9-virus-paling-mematikan-di-dunia--ii-
Livescience.com

0 komentar

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...